Orang itu dulu yang paling cepat menyelesaikan pekerjaan, paling jarang salah, paling bisa diandalkan. Maka ia dipromosikan. Enam bulan kemudian, timnya justru melambat dan ia sendiri terlihat lebih lelah daripada sebelumnya. Kalau situasi ini terasa familiar, penyebabnya jarang terletak pada orangnya.
Promosi berbasis prestasi terasa adil dan biasanya memang tepat. Persoalannya, prestasi yang membuat seseorang dipromosikan diukur dari hal yang berbeda dengan yang akan menentukan keberhasilannya setelah naik.
Sebagai pelaksana, ia dinilai dari apa yang ia kerjakan sendiri: kecepatan, ketelitian, hasil. Sebagai supervisor, ia dinilai dari apa yang dikerjakan orang lain: apakah timnya bergerak, apakah standarnya terjaga, apakah orang di dalamnya berkembang. Dua ukuran yang nyaris tidak beririsan.
Inilah sebabnya pola yang sama berulang di hampir semua organisasi. Supervisor baru mengerjakan sendiri pekerjaan yang seharusnya didelegasikan — karena lebih cepat, karena lebih yakin hasilnya benar, karena itulah yang selama ini membuatnya dihargai. Timnya lalu belajar satu hal: kalau menunggu cukup lama, pekerjaan itu akan diambil alih.
Perhatikan sejenak lapisan supervisor di organisasi Anda hari ini. Ada yang timnya bergerak sendiri tanpa diminta, ada yang timnya menunggu diperintah. Bedanya jarang terletak pada orangnya — lebih sering pada cara mereka dipimpin. Dan cara memimpin adalah keterampilan yang bisa dipelajari, bukan bakat yang dibawa sejak lahir.
Dua kesalahan yang sama merugikan: mengerjakan semuanya sendiri, atau menyerahkan pekerjaan lalu menghilang. Delegasi yang benar berada di tengah — jelas hasil yang diharapkan, jelas batas kewenangan, jelas kapan diperiksa. Keterampilan ini yang paling cepat memberi efek pada beban kerja supervisor itu sendiri.
Banyak supervisor baru memilih diam ketika melihat kesalahan, lalu meledak setelah kesalahan itu berulang lima kali. Umpan balik yang disampaikan lebih awal, spesifik pada perilaku, dan tidak di depan orang lain, justru menurunkan ketegangan — bukan menambahnya.
Menegur keterlambatan, membahas kinerja yang menurun, menyampaikan keputusan yang tidak populer. Ini keterampilan yang paling dihindari dan paling sering menentukan apakah seseorang bertahan di posisinya.
Sebagai pelaksana, cukup mengatur prioritas sendiri. Sebagai supervisor, ia harus memutuskan mana yang dikerjakan lebih dulu oleh lima orang sekaligus, sering dengan informasi yang tidak lengkap dan permintaan yang saling bertabrakan.
Orang yang mulai berhenti bertanya, rekan yang berhenti bercanda, rapat yang makin sepi. Tanda-tanda ini muncul jauh sebelum pengunduran diri diajukan. Supervisor yang bisa membacanya punya waktu untuk bertindak.
Kalimat “maaf ya, ini perintah dari atas” terasa aman diucapkan, tetapi menempatkan supervisor di luar barisan kepemimpinan. Ada cara menyampaikan keputusan yang tidak disukai tanpa berpura-pura setuju dan tanpa mengorbankan wibawa sendiri.
Tiga tanda atau lebih biasanya menunjukkan bahwa yang dibutuhkan bukan penggantian orang, melainkan pembekalan yang belum pernah ia terima.
Pelatihan kepemimpinan yang berhenti pada teori gaya memimpin jarang mengubah apa pun. Beberapa hal yang membedakan program yang berdampak:
Satu hal yang sering luput: pelatihan supervisor akan sia-sia jika atasannya tidak berubah. Supervisor yang baru belajar mendelegasikan akan berhenti melakukannya begitu atasannya menuntut ia mengetahui setiap detail. Supervisor yang baru berani mengambil keputusan akan mundur setelah keputusan pertamanya dikoreksi di depan tim.
Karena itu, program yang baik menyertakan sesi singkat untuk para manajer — bukan pelatihan penuh, cukup penyelarasan tentang apa yang sedang dilatih dan dukungan seperti apa yang dibutuhkan pada 90 hari pertama.
Uraian lengkap pendekatannya dapat dibaca di halaman program pelatihan leadership, dan dokumentasi sesi-sesi yang pernah berjalan tersedia di halaman dokumentasi pelatihan.
Idealnya dalam tiga sampai enam bulan pertama setelah pengangkatan. Pada rentang itu pola kerja barunya belum mengeras, dan kesulitan yang dihadapi masih terasa nyata sehingga materi pelatihan langsung terasa relevan. Melatih setelah satu tahun tetap berguna, tetapi biasanya harus lebih dahulu membongkar kebiasaan yang sudah terbentuk.
Supervisor memimpin pelaksana dan berhadapan langsung dengan pekerjaan harian, sehingga fokus pelatihannya pada delegasi, umpan balik, dan percakapan sulit satu lawan satu. Manajer memimpin para supervisor dan lebih banyak berurusan dengan penetapan arah, pengambilan keputusan lintas unit, serta pengelolaan perubahan. Menggabungkan keduanya dalam satu kelas umumnya membuat salah satu kelompok merasa materinya tidak pas.
Dua hari adalah durasi yang paling umum untuk membangun keterampilan dasar kepemimpinan, dengan porsi bermain peran yang besar. Yang lebih menentukan daripada durasi adalah adanya tindak lanjut: satu sesi pendampingan singkat dalam 30 hari setelah pelatihan umumnya memberi dampak lebih besar daripada menambah satu hari di dalam kelas.
Pelatihan dapat menutup kesenjangan keterampilan, tetapi tidak menyelesaikan masalah yang berakar pada kemauan atau pada kewenangan yang tidak jelas. Karena itu langkah pertama sebaiknya memastikan dulu apakah yang terjadi adalah tidak bisa, tidak mau, atau tidak boleh. Hanya yang pertama yang merupakan wilayah pelatihan; dua lainnya membutuhkan penanganan yang berbeda.
Program kepemimpinan disusun dari situasi nyata yang sedang dihadapi supervisor Anda, bukan dari modul yang sama untuk semua organisasi.
Konsultasi Gratis via WhatsApp
Baca juga: